Untuk memperoleh hasil yang baik dalam pengendalian hama tikus perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Perlu pengorganisasian yang baik
  • Meliputi daerah yang luas
  • Dilaksanakan secara massal
  • Serentak
  • Berulangkali dilakukan sampai populasi dibawah batas yang menyebabkan kerugian ekonomis
  • Perlu disesuaikan dengan keadaan serangan dan phase pertumbuhan tanamanCara-cara yang dilaksanakan dalam PENGENDALIAN HAMA TIKUS
  • Sanitasi Tanaman dan Lingkungan yaitu membersihkan semak-semak dan rerumputan, membongkar liang dan sarang serta tempat perlindungan lainnya.
  • Mekanis
    Meliputi semua cara pengendalian yang secara langsung membunuh tikus dengan pukulan, diburu anjing, menggunakan perangkap dsb.
    Cara ini akan berhasil bila diorganisir dengan baik dan dilakasanakan serentak, sebagai contoh adalah pemasangan perangkap dengan menggunakan bambu dengan panjang antar 1,5 – 2 meter yang salah satu ujungnya dibiarkan tertutup dan ujung lainnya dilubangi.
    Pemasangan dilakukan sore hari ditempat yang biasa dilalui tikus didekat pamatang diharapkan tikus akan masuk lubang dan sembunyi, dan pagi diambil dengan terlebih dahulu ujung yang terbuka dimasukkan karung/plastik, kemudian tikus yang ada dibunuh.
  • Mengatur waktu tanam
    Dengan mengatur waktu tanam, maka waktu tersedianya makanan yang disukai tikus terbatas.
  • Pengendalian Biologis
    Dengan memanfaatkan musuh alami (predator) yang menghambat populasi tikus seperti ular, kucing dll.
  • Penggunaan bahan kimia
    Bahan kimia yang digunakan biasanya adalah Rodentisida seperti Klerat RM dll yang ada dipasaran dan gas beracun (belerang).
    Rodentisida digunakan dengan umpan yang disukai tikus seperti: beras, jagung, ubi kayu dn ubi jalar. Umpan beracun ada 2 jenis, yaitu yang siap pakai seperti; Klerat RM dan Umpan yang dibuat sendiri (umpan + Zink Phosfit).Racun yang dipakai juga ada 2 jenis yaitu:
  • Racun akut yang bekerja cepat, tikus mati 3-14 jam sesudah peracunan, namun dapat menimbulkan jera umpan, contoh zink phosfit. Perbandingan umpan dan racun 99:1
    Dosis penggunaan 10-20 gram umpan/raun per tempat umpan
  • Racun kronis yang bekerjanya lambat, namun tidak menimbulkan jera umpan. Tikus akan mati 2 -14 hari setelah peracunan. Perbandingan umpan racun 19:1.
    Contoh: Klerat RM dosis penggunaan 10-40 per tempat umpan.
    Untuk melindungi umpan dari hujan dan tidak termakan hewan ternak, perlu digunakan tempat umpan yang diletakkan ditepi pematang dekat liang tikus dengan jarak masing-masing tempat 25 meter, dan masing-masing tempat diberi 10-20 gram umpan.
  • Penggunaan gas beracun
    Penggunaan gas beracun akan efektif bila padi dalam stadium bunting dengan menggunakan dioksida belerang yang dihasilkan dengan membakar merang yang telah diberi serbuk belerang didalam alat emposan.
    Asap dan gas yang keluar dihembuskan kedlam liang tikus pada pematang sawah. Sebelumnya lubang-lubang keluar ditutup terlebih dahulu.
    Jadi dengan pengendalian hama tikus melalui berbagai cara yang dilaksanakan secara terpadu, ini diharapkan dapat menekan populasi tikus dilapangan dibawah ambang batas ekonomi yang tidak merugikan bagi petani.
    1. Dampak Neraca Pembayaran Surplus

    Secara ekonomi neraca pembayaran yang surplus akan berpengaruh terhadap tingkat harga dalam negeri, yaitu mempunyai pengaruh inflatoir mendorong/ menjurus kea rah kenaikan harga (inflasi). Hal ini disebabkan oleh adanya penambahan permintaan efektif.

    1. Dampak Neraca Pembayaran Defisit

    Apabila neraca pembayaran suatu Negara mengalami deficit, maka dampak yang akan terjadi sebagai berikut:

    * Produsen dalam negeri tidak adapat bersaing dengan barang-barang impor

    * Pendapatan Negara sedikit, sehingga utang Negara bertambah besar

    * Perusahaan banyak yang gulung tikar, sehingga pengangguran meningkat akibat dari PHK
    Ketiga dampak di atas disebut pengaruh deflatoir yang mendorong/ menjurus ke arah penurunan harga (deflasi).

    1. Dampak Neraca Pembayaran Seimbang

    Neraca pembayaran yang seimbang tidak terlalu berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi suatu Negara. Sehingga apabila suatu Negara tidak dapat mencapai surplus dalam neraca pembayaran, maka minimal harus dalam kondisi seimbang. Dengan demikian akan dapat menghindari neraca pembayaran yang defisit.

    di 12:34 AM 0 komentar

    Label: Neraca Pembayaran

    Neraca Pembayaran Defisit, Surplus, Dan Seimbang

    Ucup,

    Angka yang ada dalam neraca pembayaran akan menunjukan apakah Negara mengalami deficit atau surplus. Terdapat 3 kemungkinan dari kinerja neraca pembayaran, yaitu sebagai berikut:


    Neraca Pembayaran defisit
    , terjadi apabila jumlah pembayaran lebih besar daripada jumlah penerimaan (transaksi kredit < transaksi debet). Suatu Negara jika mengalami kelebihan impor dan kelebihan tersebut ditutup dengan menambah pinjaman akomodatif dan mengurangi cadangan (stok) nasional maka Negara tersebut sedang mengalami defisit total.

    Neraca pembayaran surplus, adalah apabila jumlah penerimaan lebih besar daripada jumlah pembayaran/ utang (transaksi kredit> transaksi debet).

    Neraca Pembayaran seimbang, adalah apabila jumlah pembayaran atau utang sama dengan jumlah penerimaan (transaksi kredit = transaksi debet).

    Buah persik adalah salah satu jenis buah batu yang berasal dari Cina. Buah ini juga tumbuh dan menjadi salah satu komoditas buah di Amerika. Namun, konsumsi buah persik da Amerika sangat minim jika dibandingkan dengan komoditas buah lain. Menurut lembaga riset UC Davis, hal ini disebabkan oleh kualitas buah persik yang menurun setelah dipanen. Masalah utama penyebab kualitas yang minim ini adalah konsumen tidak mengetahui perbedaan antara buah persik yang siap panen (mature ) dan yang siap makan atau matang (ripe), selain itu, efek dari Chilling Injury (CI) atau kerusakan akibat penyimpanan pada suhu yang terlalu rendah membuat kerusakan buah.

    Solusi Jangka Pendek dan Jangka Panjang.

    Solusi jangka pendek meliputi pemilihan suhu saat penyimpanan, pengemasan, penerimaan, transportasi, dan penanganan sebelum buah matang (preripening), hingga mencapai kondisi optimum. Selain itu, dilakukan pula program pendidikan dalam rangka penanganan pasca panen buah persik. Solusi jangka panjang meliputi pemahaman dari sifat genetic dan biokimia flavor (perisa), antioksidan, dan control terhadap CI dengan menggunakan teknologi genetika molekuler yang sedang dikembangkan.

    Aturan Kematangan Buah

    Buah persik yang dipanen pada tingkat meture yang tinggi tidak membutuhkan asupan etiena dari luar untuk membantu proses pematangannya. Etilena adalah gas yang berperan dalam proses pematangan buah. Laju pematangan buah bervariasi pada tiap jenis persik dalam kondisi suhu tertentu. Laju pematangan yang cepat dicapai pada suhu 20-25oC, dan laju yang lambat terjadi pada suhu yang lebih rendah. Suhu lebih tinggi dari 25oC akan mengurangi laju pematangan dan diikuti oleh kerusakan pada kulit buah dan menimbulkan rasa yang tidak sedap (off flavor).

    Buah persik jenis white flesh (berkulit putih) memiliki laju pengempukan yang cepat. Kekerasan kulit (flesh firmness) merupakan indikator terbaik dalam menentukan kematangan buah dan salah satu factor yang menggambarkan potensi masa simpan buah. Buah yang telah mencapai tingkat 0.27-0.36 N flesh firmness siap untuk dibeli, sedangkan buah yang mencapi 0.09-0.14N siap untuk dimakan. Berdasarkan eksperimen, transfer buah ke distributor seharusnya sebelum buah mencapai  0.27-0.36 N (titik pengiriman). Untuk melambatkan laju pematangan, buah harus ditempatkan pada suhu rendah. Buah persik, pulm, dan nectar (jenis buah batu), yang dipanen saat tahap mature yang rendah membutuhkan asupan etilena dari luar (100 ppm selama 24 jam atau lebih) untuk mencapai kematangan optimum.

    Penanganan Preripening

    Umumnya, buah ditempatkan selama 24 jam pada suhu 20oC merupakan kondisi efektif untuk mencegah kerusakan buah. Penanganan ini meningkatkan masa simpan minimum menjadi lebih dari dua minggu setelah panen (Tabel 1). Hilangnya bobot dan pengempukan terjadi selama penanganan, tidak mengurangi kualitas buah. Pendinginan secara cepat setelah preripening penting untuk menghentikan kerusakan buah yang lebih parah, seperti pelembutan kulit, rasa hambar, busuk, dan hilang bobot atau kesegaran. Berdasarkan pengetahuan tentang  perubahan fisika dan kimia yang terjadi pada buah selama penanganan preripenning , kualitas buah dapat ditingkatkan.

    Indeks Kualitas Minimum ( Kode Flavor)

    Hubungan antara keasaman yang dapat dititrasi (Titrated Acidity,TA), dan konsentrasi padatan terlarut (Solid soluble concentration)dengan daya beli masyarakat merupakan poin penting dalam menentukan indeks kualitas minimum. Buah dengan SSC yang tinggi memiliki daya beli yang tinggi. Namun faktor ini tidak dapat menjadi faktor tunggal dalam penentuan kualitas buah. Nilai SSC dan TA dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranyan penanaman, kondisi lingkungan, posisi kanopi, pemanenan, dan pematangan. Penulis menyarankan untuk mengadakan survey pasar terhadap daya beli masyarakat.

    Kode Flavor Buah Persik dan Nektarina (Minuman dari Buah Persik)

    Penulis melakukan pengujian organoleptik terhadap 23 sampel buah persik dan 36 sampel nektarina menggunakan desain eksperimen analisis komponen utama (PCA). Komponen utama menggambarkan variabel-variabel lain percobaan, seperti rasa, keempukan, kandungan antioksidan, dan lain-lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman dan pengembangan inddeks kualitas minimum ditempatkan pada kelompok-kelompok faktor organoleptik. Klasifikasi ini akan membantu menemukan kode rasa dengan daya beli masyarakat.

    Penggunaan Bahan Tambahan Pangan dan Senyawa Kimia Bertoksisitas rendah sebagai Fungisida Sintetik Pasca Panen

    Penanganan pasca panen terhadap jamur dengan fungisida sintetik menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan. Oleh karena itu,penulis menawarkan alternatif berupa fungisida yang meninggalkan residu rendah atau tanpa residu pada buah, dan aman bagi lingkungan da kesehatan. Senyawa-senyawa tersebut dikategorikan sebagai GRASS (Generally recognice as safe ). Telah ditemukan 6 senyawa etrsebut, yaitu glukosamina, potassium karbonat, potassium sorbat, sodium karbonat, sodium sitrat, dan sodium benzoat. Semua senyawa tersebut dapat membunuh dua patogen utama pada buah persik, yaitu M. fructicola dan G. candidum, kecuali glukosamina yang tidak dapat melawan M. fructicola